DATAPOST.ID DELI SERDANG — Terik mentari siang itu tak menyurutkan langkah Sugandah, pria kelahiran Kabupaten Langkat 1978 silam itu, setiap hari harus menempuh perjalanan 35 menit demi mengajar di MDTA Khairul Imam. Dengan penghasilan hanya Rp 600.000 per bulan, ia tetap bersemangat menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Siapa sangka, dari kesederhanaan itulah pertambahan rezeki dalam hidupnya bermula. Di sela-sela kesibukannya mengajar, Sugandah mencari peluang tambahan. Ia mencoba peruntungan sebagai penceramah di Radio Suara Medan.

Ujian langsung dari Direktur Suara Medan, Julianus Manalu, berhasil ia lewati. Sugandah resmi menjadi mitra siar, membawa pesan keagamaan ke ruang dengar masyarakat.

Perjalanan hidup Ayah dari Salsabila Ayunda ini memasuki babak baru ketika seorang pegawai honorer KUA Deli Tua, kini telah pensiun, memberitahukan adanya rekrutmen penyuluh agama Islam oleh Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang.

Baca Juga :  2 Siswa MTsN Tebing Tinggi Raih Medali Emas dan Perak pada Ajang Pencak Silat Internasional 2025

Atas dorongan itu, Sugandah pun mendaftar. Setelah melalui proses seleksi, ia dinyatakan lulus dan ditugaskan sebagai Penyuluh Agama Islam di Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang.

Kecamatan Biru-Biru memiliki 17 desa. Diantara semuanya, 2 desa paling membekas di benak suami dari Sri Wahyuni ini, yaitu Desa Peria Ria dan Desa Kuala Dekah. Bukan karena kemegahan atau keramaian, melainkan karena medan dakwah yang menantang, bahkan menyeramkan.

Jalan belum diaspal, akses sulit, tapi semangatnya tak surut. Dalam hati ia selalu menggenggam ayat suci: “Intansurullaha yansurkum wayutsabbit aqdamakum”, yang artinya: “Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Kini, delapan tahun berlalu, Pria yang mengidolakan Rhoma Irama ini telah resmi menjadi ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan bertugas di Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang, tepatnya di Seksi Bimas Islam. Sebuah lompatan besar dari perjuangan panjang dan penuh keikhlasan.

Baca Juga :  HUT APKASI 2026, Momentum Angkat Nama Deli Serdang ke Tingkat Nasional

“Delapan tahun menjadi penyuluh agama adalah anugerah dan pengabdian yang tak ternilai, saya jalani semua dengan moto ikhlas beramal”, tutur Sugandah dengan mata berkaca saat diwawancarai wartawan Kanwil Kemenag Sumut.

Perjalanan Sugandah adalah bukti nyata bahwa kerja keras, keikhlasan, dan keteguhan hati dalam dakwah akan berbuah manis. Kisahnya menjadi inspirasi bagi para penyuluh dan generasi muda untuk terus berjuang, apapun rintangannya. (Mam)

Yuk baca berita datapost.id
Banyak konten menarik lainnya dan follow kami di Google News