Kakak Beradik Menggantikan Orangtua Jadi Tamu Allah : Panjatkan Doa Buat Kedua Orangtua
MEDAN, DATAPOST.ID — Kematian adalah takdir Allah tak ada yang bisa menghalangi. Manusia hanya bisa berencana, namun Allah berkehendak.
Demikian pula yang dialami kakak-beradik asal Kabupaten Dairi, Annisyah Ristika Rambe dan Raudiyah Hasanah Rambe, takdir berkehendak lain. Kedua orangtua yang sangat dicintai pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, meski keduanya masih tergolong muda.
Dengan kehendak Allah juga, kedua kakak beradik ini menjadi tamu Allah berangkat menunaikan ibadah haji ke tanah Suci yang tergabung pada Kloter 18 Embarkasi Medan.
Adapun jamaah calon haji Kloter 18 ini berjumlah 359 orang berasal dari Kota Medan sebanyak 226 jamaah, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) 107 jamaah dan dari Kabupaten Dairi 18 jamaah ditambah petugas haji 8 jamaah.
Annisyah Ristika Rambe dan Raudiyah Hasanah Rambe ditemui wartawan saat masuknya jamaah calon haji kloter 18 di Aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan (Ahmed), Jum’at (31/05/2024) sore menuturkan, bahwa keberangkatan mereka ke tanah suci dikarenakan menggantikan kedua orantuanya yang dipanggil Allah meninggal dunia.
“Ayah meninggal usia 49 tahun sedangkan mamak meninggal umur 50 tahun saat itu umur saya 16 tahun,” kenang Raudiah Hasanah Rambe.
Diceritakan mereka, Kedua orantua telah terdaftar dan menabung untuk berangkat menunaikan ibadah haji, namun Allah berkendak lain, kakak direncanakan menggantikan ayah yang lebih dulu tiada bersama ibu, namun ibu juga dipanggil Allah untuk selama-lamanya, saya menggantikannya ke tanah suci, semoga Allah mengabulkan niat kami,” ujar Raudiah Hasanah Rambe dengan wajah sabar dan ikklas meski terkadang terlintas kesedihan.
Kakak beradik ini pun berkisah, mereka niat awal ke tanah suci untuk memanjatkan doa kepada orangtua yang telah tiada, keselamatan mereka, rezki dan kepada keluarga juga.
Persiapan dan perasaannya menggantikan orangtua menuju ke tanah suci, menurut Raudiah Hasanah Rambe semester 2 UINSU dan Annisah Ristika Rambe sarjana USU harus mengawali dengan memantapkan niat yang tulus dan ikhlas menerima panggilan dari Allah SWT, kemudian menyiapkan fisik dan mental, tetap semangat, yakin dan percaya Allah akan memberikan rezki yang tak disangka-sangka kepada hambanya.
Annisyah yang baru meluluskan studinya di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara tersebut berniat untuk membadalkan haji ayahnya (Ramansyah Rambe) yang telah meninggal tahun 2020 silam.
“Iya, niat saya mau menghajikan ayah yang meninggal dunia. Itu wasiat ibu setelah ayah meninggal. Semoga ayah diterima seluruh ibadahnya selama di dunia,” lanjutnya.
Sementara Raudiyah menggantikan ibunya (Lasmaini Banurea) yang wafat karena kecelakaan tahun 2022. Ia sangat terpukul karena masih sangat muda telah ditinggal orang yang paling disayang. Mahasiswi semester 2 di Fakultas Kesehatan Masyarakat tersebut berharap dan mendoakan ibunya di tanah suci.
“Ini menjadi pengalaman pertama berangkat ke Masjidil Haram. Sesampai di sana ingin mendoakan ibu semoga diampuni dosanya dan diterima segala amal baiknya,” ucap Raudhiyah.
Untuk persiapan, mereka rutin ikut manasik secara bersama dan belajar bersama agar tidak keliru saat melaksanakan ibadah haji nanti mengingat ini pengalaman pertama mereka berdua. Mereka juga kompak mengatakan persiapan fisik juga sangat penting.
Annisyah juga berharap selepas pulang dari haji semoga diberikan Allah kemudahan dalam menggapai cita-citanya. Raudhiyah yang punya semangat tinggi ini juga termotivasi untuk segera menyelesaikan studinya dan meraih Impian almarhum ayah dan almarhumah ibunya. (Lubis)

Tinggalkan Balasan