Warga Binaan Lapas Banyuwangi Rampungkan Al-Qur’an Raksasa, Kini Digunakan Rutin untuk Tadarus
DATAPOST.ID BANYUWANGI – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi meraih prestasi gemilang melalui program pembinaan kepribadian, dengan tiga orang warga binaan berhasil menyelesaikan penulisan Al-Qur’an raksasa berukuran 1 meter. Karya ini kini menjadi sarana utama tadarus bersama selama bulan Ramadhan di lingkungan Lapas.
Karya monumental tersebut dihasilkan dari program pembinaan berbasis pondok pesantren Lapas Banyuwangi di bidang seni kaligrafi.

Menariknya, ketiga warga binaan yang terlibat awalnya tidak memiliki dasar penulisan Al-Qur’an maupun kaligrafi, sebelum mendapatkan bimbingan intensif melalui kerja sama Lapas dengan pengrajin kaligrafi profesional.
Kepala Lapas (Kalapas) Banyuwangi I Wayan Nurasta Wibawa menjelaskan bahwa proses pengerjaan memakan waktu kurang lebih 10 bulan, dimulai sejak Ramadhan tahun lalu dan diselesaikan dengan penuh ketelitian.
“Al-Qur’an ini adalah bukti keberhasilan pembinaan berbasis pondok pesantren kami. Meskipun para penulisnya berangkat dari nol tanpa keahlian kaligrafi, berkat ketekunan dan bimbingan pengrajin yang kami hadirkan, mereka mampu melahirkan mahakarya yang luar biasa ini,” ujarnya pada Kamis (05/03).
Wayan menekankan bahwa akurasi ayat menjadi prioritas utama. Sebelum digunakan secara resmi, naskah Al-Qur’an tersebut telah melalui proses tashih (pemeriksaan mendalam) oleh Pondok Pesantren Nur Cahaya Tarbiyatul Qur’an.
“Kami memastikan setiap huruf dan harakatnya benar. Setelah melalui proses tashih dan pemeriksaan ulang, dilakukan pembetulan pada bagian-bagian tertentu hingga akhirnya dijilid kembali untuk kedua kalinya guna memastikan kualitas fisik dan kerapiannya. Kami berharap karya ini membawa manfaat, berkah, serta memotivasi warga binaan lain untuk terus berkarya,” tambahnya.
Moch Chanafi, salah satu penulis utama, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian tersebut. Menurutnya, perjalanan selama 10 bulan menulis kalam illahi menjadi sarana refleksi dan pendewasaan spiritual yang berharga.
“Saya sangat bangga bisa menyelesaikan Al-Qur’an raksasa ini, apalagi saya memulainya dari tidak bisa sama sekali. Selama menulis, saya belajar banyak hal untuk bekal kembali ke masyarakat nanti. Saya menjadi lebih sabar dan lebih meresapi nilai-nilai luhur dari setiap ayat yang saya goreskan,” ungkap Chanafi.
Kini, Al-Qur’an raksasa tersebut menjadi pusat kegiatan religi di Lapas Banyuwangi. Keberadaannya tidak sekadar simbol kreativitas, melainkan juga representasi semangat hijrah dan transformasi positif para warga binaan dalam menjemput masa depan yang lebih baik. (Red)
Ayo baca berita menarik lainnya dan follow kami di Google News

Tinggalkan Balasan