MANDAILING NATAL II DATAPOST.ID – Masjid Jami’ Madinatul Mukhlisin, Perumahan Cemara Madina Sibarea, menggelar Kajian Islam Ba’da Maghrib pada Rabu (23/09/2026).

Kajian tersebut Mengangkat tema “Bersih Diri, Suci Hati: Memahami Thaharah dalam Kehidupan Sehari-hari”, kajian ini menghadirkan KH. Muhammad Nasir, Lc., M.Ag. sebagai pemateri.

Kajian tersebut diikuti puluhan warga Perumahan Cemara Madina dan masyarakat sekitar dengan pembahasan yang lebih menekankan pentingnya membersihkan hati sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas kehidupan seorang Muslim.

Dalam penyampaiannya, KH. Muhammad Nasir menjelaskan bahwa kebersihan dalam Islam tidak semata-mata berkaitan dengan kebersihan tubuh, pakaian, maupun tempat tinggal. Ada kebersihan yang tidak terlihat oleh mata, tetapi justru sangat menentukan kualitas kehidupan seseorang, yakni kebersihan hati.

Menurutnya, seseorang dapat terlihat bersih secara lahiriah, tetapi masih menyimpan berbagai penyakit batin seperti iri, dengki, sombong, hasad, dendam, riya, dan merasa lebih baik daripada orang lain.

“Kita sering sibuk membersihkan apa yang terlihat oleh mata, tetapi terkadang lupa membersihkan apa yang ada di dalam hati. Padahal hati adalah tempat lahirnya niat, dan dari niat itulah perilaku seseorang bermula. Karena itu, membersihkan hati harus menjadi bagian dari muhasabah kita setiap hari,” ujar KH. Muhammad Nasir dalam kajiannya.

Baca Juga :  Siswa MAN 2 Deli Serdang Antusias Sambut Program MBG

Ia menjelaskan bahwa penyakit hati sering kali tidak mudah disadari karena tidak menimbulkan tanda-tanda fisik sebagaimana penyakit pada tubuh.

Bahkan, seseorang terkadang merasa dirinya baik-baik saja ketika di dalam hatinya tumbuh rasa iri terhadap keberhasilan orang lain, sulit menerima nasihat, senang melihat orang lain mengalami kesulitan, atau merasa berat memberikan penghargaan kepada orang lain.

Karena itu, proses membersihkan hati membutuhkan kejujuran kepada diri sendiri dan keberanian untuk melakukan introspeksi.

“Mengobati hati dimulai dari mengakui bahwa hati kita juga bisa sakit. Jangan merasa diri kita sudah bersih hanya karena kita rajin beribadah. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: masihkah ada iri, dengki, sombong, marah yang berlebihan, atau kebencian kepada orang lain di dalam hati kita? Dari situlah proses pengobatan hati dimulai,” katanya.

Baca Juga :  Perjanjian Tower Dan Pemilik Lahan Dengan Warga Di Ingkari, Warga Surati komisi III DPRD Madina

Lebih lanjut, KH. Muhammad Nasir menyampaikan sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk membersihkan hati, di antaranya memperbanyak zikir dan mengingat Allah SWT, memperbanyak istighfar, membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, memperbanyak doa, melakukan muhasabah, serta berusaha memaafkan kesalahan orang lain.

Beliau juga menuturkan, menjaga hati juga membutuhkan lingkungan yang baik dan kebiasaan untuk mengendalikan lisan, sebab banyak penyakit hati justru berkembang karena seseorang terlalu sering membicarakan keburukan orang lain.

“Hati harus dirawat sebagaimana tubuh kita dirawat. Kalau tubuh membutuhkan makanan yang baik, hati juga membutuhkan makanan yang baik. Zikir, Al-Qur’an, istighfar, doa, sedekah, dan perbuatan baik adalah bagian dari makanan hati. Sebaliknya, dosa, kebencian, iri, dan terus-menerus memikirkan keburukan orang lain dapat membuat hati semakin jauh dari ketenangan,” jelasnya.

Ketua BKM Masjid Jami’ Madinatul Mukhlisin Perumahan Cemara Madina Sibarea, H. Imran Nawawi, S.E., menyampaikan bahwa kajian tersebut menjadi bagian dari upaya BKM menghidupkan masjid sebagai pusat pembinaan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Baca Juga :  Kakanwil Kemenag Sumut Letakkan Batu Pertama Pembangunan Pesantren Tahfizh Qur’an Umat Annajah: Persiapan Generasi Muda yang Qurani

Ia berharap kegiatan kajian dapat terus dilaksanakan secara rutin sehingga masyarakat memiliki ruang untuk menambah ilmu, melakukan introspeksi, sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga.

“Kami berharap kajian seperti ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberikan dampak dalam kehidupan sehari-hari. Tema tentang kebersihan hati sangat penting karena setiap orang perlu melakukan introspeksi. Mudah-mudahan jamaah semakin dekat dengan Allah, hubungan antarsesama semakin baik, dan Masjid Jami’ Madinatul Mukhlisin terus menjadi tempat masyarakat belajar dan memperbaiki diri,” ungkap H. Imran Nawawi.

Kajian ditutup dengan ajakan kepada jamaah untuk menjadikan kebersihan hati sebagai bagian dari evaluasi diri yang dilakukan secara berkelanjutan. Membersihkan hati bukan pekerjaan sekali selesai, melainkan proses yang membutuhkan kesungguhan dan konsistensi.

Melalui kajian ba’da Maghrib tersebut, jamaah diajak untuk tidak hanya memperhatikan kebersihan yang tampak secara lahiriah, tetapi juga merawat batin agar terhindar dari penyakit hati dan senantiasa menghadirkan niat yang baik dalam menjalani kehidupan. (*)