Ringkasan Berita:

• Kanwil Kemenag Sumut menggelar upacara peringatan HUT ke-81 RI dengan pesan utama: kemerdekaan adalah amanah rahmat Allah yang harus diisi dengan menjadikan agama sebagai sumber kerukunan dan kemajuan.

• Dalam pidato Menag yang dibacakan Kabag TU, ditegaskan agar perbedaan tidak memisahkan, teknologi tidak menggeser akhlak, dan setiap kebijakan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

• Zakat, toleransi, serta program pendidikan dan gizi menjadi penopang kemajuan bangsa.

• Kemerdekaan bukan sekadar tanggal merah, melainkan amanah rahmat Tuhan yang harus diisi dengan: merawat kerukunan antarumat beragama, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan akhlak, serta mewujudkan nilai-nilai keimanan menjadi kesejahteraan nyata bagi seluruh rakyat.

• Seluruh peserta juga mendoakan keselamatan dan pemulihan bagi korban bencana alam di sejumlah daerah.



DATAPOST.ID | MEDANKantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Upacara Peringatan Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia di Lapangan Utama Kanwil Kemenag Sumut, Senin (17/08/2026).

Baca Juga :  Sambut Kepulangan Paskibraka Nasional 2023, Bupati Madina : Nabil Arya Barata Lubis Bisa Menjadi Motivasi Untuk Pelajar Madina Lainnya

Upacara diikuti jajaran pejabat eselon, pejabat fungsional, serta seluruh ASN dan staf lingkungan Kanwil Kemenag Sumut yang hadir mengenakan pakaian adat sebagai simbol keberagaman bangsa Indonesia.

Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Sumut, Syafrizal Bancin, bertindak sebagai Inspektur Upacara dan membacakan pidato resmi Menteri Agama Republik Indonesia. Dalam amanatnya, ditegaskan bahwa kemerdekaan bukan sekadar perayaan, melainkan amanah yang lahir dari pengorbanan dan rahmat Allah SWT.

“Kemerdekaan bukan hadiah. Ia lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa para pendahulu kita. Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan terjadi atas berkat rahmat Allah SWT. Karena itu, kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tapi amanah untuk disyukuri dan diwujudkan,” tegas Syafrizal membacakan amanat Menag.

Pesan pokok yang disampaikan adalah menjadikan agama dan nilai-nilainya sebagai sarana persatuan, bukan pemisah. Perbedaan keyakinan harus saling menguatkan. Rumah ibadah, madrasah, pesantren, dan lembaga keagamaan harus menjadi pusat ilmu, ketenteraman, dan pembentukan akhlak mulia.

“Jangan biarkan perbedaan jadi alasan bermusuhan. Jangan biarkan agama jadi alasan saling menjauh. Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan,” bunyi amanat tersebut.

Baca Juga :  Korps Adhyaksa Gelar Upacara Penyerahan Jenazah Calon Jaksa Alm. Reynanda Primta Ginting

Data Indeks Kerukunan Umat Beragama mencapai 77,89 dan Indeks Kesalehan Umat Beragama sebesar 84,61 pada tahun 2025 turut disampaikan sebagai bukti nyata keberhasilan toleransi beragama.

Selain itu, disinggung pula program prioritas seperti Kurikulum Berbasis Cinta, gerakan Ekoteologi, Program Makan Bergizi Gratis bagi 11,8 juta siswa-santri, serta Program Indonesia Pintar bagi 5,1 juta siswa binaan Kemenag.

Pidato Menag juga mengingatkan seluruh ASN agar bekerja menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat, bukan sekadar menyelesaikan program. Setiap rupiah anggaran harus kembali bermanfaat bagi umat.

Terkait kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, ditegaskan agar kemajuan tidak menggeser nilai kemanusiaan dan akhlak.

“AI boleh semakin cerdas, tapi manusia harus tetap bijaksana. Teknologi boleh semakin maju, tapi akhlak tidak boleh tertinggal. Jangan sampai kemajuan teknologi membuat manusia kehilangan hati nurani,” demikian amanat Menag.

Baca Juga :  Memasuki Hari ke–13, Sebanyak 4.103 Jemaah Reguler Asal Sumut Lunasi Biaya Haji 2025

Nilai-nilai keagamaan juga harus diwujudkan menjadi kekuatan sosial-ekonomi nyata, antara lain melalui optimalisasi zakat nasional yang mencapai Rp44,6 triliun.

Di sela upacara, turut juga dipanjatkan doa bagi korban bencana alam di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah agar diberi ketabahan, kesabaran dan pemulihan yang cepat.

Menutup amanat, disampaikan refleksi pengisian kemerdekaan masa kini:

“Jika dahulu mereka mengangkat senjata, hari ini kita mengembangkan ilmu dan memanfaatkannya untuk kebaikan manusia dan alam. Jika dahulu mereka bertaruh nyawa, hari ini kita harus mempertaruhkan integritas. Mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh, melayani dengan tulus, merawat kerukunan, serta jadikan agama sebagai sumber kedamaian, persatuan, dan kemajuan bangsa.”

Upacara pun diakhiri dengan doa bersama dan tekad bersama untuk merawat kerukunan demi Indonesia yang maju dan bermartabat. (Red)

Dapatkan berita-berita terbaru dan menarik lainnya dengan mengikuti kami di Google News