DATAPOST.ID | MEDAN – Gelaran akbar sepak bola internasional Kejuaraan AFF U-19 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Sumatera Utara pada 1 hingga 14 Juni mendatang, kian menjadi sorotan publik.

Sebanyak 11 negara se-Asia Tenggara dipastikan akan bertanding memperebutkan gelar juara di tiga lokasi utama, yaitu Stadion Utama Sumatera Utara (SUSU) Batang Kuis, Stadion Teladan Medan, dan Stadion Mini di kompleks Sport Center Sumut. Namun, penetapan Stadion Teladan sebagai salah satu venue utama menuai penolakan keras dari kalangan pengamat dan aktivis sosial.

Dalam pembagian grup yang telah ditetapkan, Grup A yang diisi timnas Indonesia, Vietnam, Timor Leste, dan Myanmar akan berlaga di Stadion Utama Sumatera Utara (SUSU) Batang Kuis. Sementara itu, Grup B (Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam) dan Grup C (Australia, Filipina, Kamboja) dijadwalkan akan menggunakan fasilitas di Kota Medan. Keberadaan Stadion Teladan yang diharapkan menjadi kebanggaan justru dianggap sebagai bom waktu yang berpotensi mencoreng nama baik daerah bahkan negara.

Aktivis sosial Johan Merdeka menyatakan kekhawatiran sekaligus rasa malu yang mendalam mengingat kondisi fisik stadion bersejarah tersebut. Menurutnya, meski bagian dalam terlihat berbenah, kondisi bagian luar dan lingkungan sekitar masih jauh dari standar layak untuk ajang internasional.

Baca Juga :  Nyamar Jadi Pembeli, Satresnarkoba Polres Madina Amankan Pengedar Sabu Dibelakang Sekolah.

“Sebagai warga Kota Medan, saya merasa malu sekaligus miris jika betul Stadion Teladan tetap dipaksakan menjadi tempat pertandingan AFF U-19 dengan kondisi luar bangunan yang masih hancur lebur seperti ini. Apa kata dunia yang datang berkunjung dan menyaksikan pertandingan ini? Apakah masih ada rasa malu bagi para pemimpin Sumatera Utara dan Kota Medan melihat kondisi ini?” tegas Johan Merdeka kepada wartawan di Medan, Kamis (28/05/2026).

Lebih jauh, Johan menyoroti realisasi proyek revitalisasi yang menelan anggaran besar mencapai Rp510 miliar. Dana tersebut bersumber dari kolaborasi APBN Kementerian PUPR sebesar Rp75 miliar dan sisanya merupakan tanggungan APBD Kota Medan. Proyek yang dimulai sejak peletakan batu pertama pada Februari 2024 ini sejatinya ditargetkan selesai pertengahan tahun 2026, namun menurut penilaiannya, keterlambatan disebabkan bukan karena faktor teknis, melainkan masalah birokrasi dan kepentingan politik.

Baca Juga :  Desak Inspektorat, Komandan Madina Minta Segera Tuntaskan LHP Dugaan Penyimpangan Dana Desa 2024 Program “Kepemudaan” Kotanopan

“Seharusnya pekerjaan ini sudah rampung tahun lalu jika ada keseriusan dan komitmen nyata. Faktanya, alih-alih mengejar penyelesaian, kita justru disibukkan dengan konflik internal dan ego para pemangku kebijakan. Akibatnya, stadion kebanggaan dan ikon sejarah ini tidak kunjung selesai, malah dipaksakan untuk menerima tamu internasional,” kritiknya.

“Saya membayangkan pemandangan memalukan saat suporter asing merekam dan menyebarkan kondisi bangunan yang masih kupak-kapik ini ke seluruh dunia. Bukan hanya Gubernur atau Wali Kota yang akan dipermalukan, tapi hal ini bisa berimbas hingga membuat malu Bapak Presiden Prabowo Subianto di mata dunia internasional,” tambahnya dengan nada tegas.

Johan juga menyindir langkah Wali Kota Medan, Rico Waas, yang beberapa kali memamerkan kemajuan pembangunan melalui media sosial. Menurutnya, apa yang dipublikasikan hanyalah sisi indah semata, seperti lapangan rumput, tribun penonton, papan skor, hingga ruang ganti pemain. Sementara kondisi lingkungan luar, akses jalan, dan fasilitas penunjang yang masih berantakan sama sekali tidak terekspos.

Baca Juga :  Terkait Proyek 42 Miliar Revitalisasi Danau Siombak, Kejari Belawan Janji Pelajari

“Pak Wali Kota sering memposting: lihat, lapangan bagus, tempat duduk oke, papan skor mantap, ruang pemain mewah. Tapi coba lihat sisi belakang, sisi samping, dan akses masuknya, tidak pernah dipublikasikan. Artinya apa? Beliau sendiri pun sebenarnya malu melihat pengerjaan luar yang belum selesai itu. Mari kita jujur saja, jangan sampai keterpaksaan ini justru mencoreng nama baik warga Kota Medan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Johan Merdeka mendesak pemerintah daerah dan panitia pelaksana untuk meninjau ulang keputusan tersebut. Mengingat masih ada waktu tersisa sebelum pembukaan turnamen, ia menyarankan agar jadwal pertandingan dialihkan ke fasilitas lain yang benar-benar siap pakai dan layak, demi menjaga marwah daerah di kancah internasional.

“Secara keseluruhan, Stadion Teladan belum siap. Masih ada waktu, silakan pertimbangkan opsi lain. Jangan karena ingin terlihat sudah bekerja, kita justru menanam rasa malu yang berkepanjangan,” pungkasnya. (***)

Dapatkan berita-berita terbaru dan menarik lainnya dengan mengikuti kami di Google News