MANDAILING NATAL II DATAPOST.ID – RSUD Panyabungan menganggarkan Rp15,92 miliar dari dana BLUD 2026 untuk obat, bahan medis habis pakai, dan kimia. Tapi di saat bersamaan, pengelolaan sampah rumah sakit itu amburadul. TPS jorok, limbah medis meluber dan dinding kotor bekas tangan.

Kondisi ini kontras dengan ambisi RSUD Panyabungan jadi rumah sakit rujukan regional Madina. Sebab syarat utama RS rujukan merupakan layanan prima dan lingkungan steril.

Data yang didapat mencatat di tahun 2026 ini ada 4 paket BLUD jumbo RSUD Panyabungan yakni Pengadaan Obat-obatan senilai Rp10.100.000.000, pengadaan Bahan Medis Habis Pakai Rp3.405.609.742.

Kenudian ada pengadaan Bahan Habis Pakai Kimia senilai Rp2.220.000.000 dan Pembuatan Grounding Rp200.000.000. Total keseluruhan berjumlah Rp15.925.609.742.

Baca Juga :  Walikota Dan BPK Provsu Diminta audit Direksi PUD Pasar Kota Medan

Pantauan wartawan, Rabu (06/05/2026), TPS RSUD Panyabungan justru jadi ironi. Tumpukan sampah plastik, botol infus, dan limbah medis menggunung di dalam bangunan TPS hingga meluber ke tanah. Dinding kotor, sampah berserakan, padahal tong hijau bertutup di samping kosong.

Ket foto : Kondisi sampah menggunung di TPS RSUD Panyabungan, Selasa (05/05/2026). (Ist)

Permenkes 7/2019 tegas menyatakan limbah medis infeksius wajib tertutup, terpisah, dan diangkut maksimal 2×24 jam. Akreditasi RS rujukan pun mensyaratkan manajemen limbah B3 ketat.

RSUD Panyabungan beli bahan kimia Rp2,22 M dan BMHP Rp3,4 M tahun 2026. Artinya limbah B3 yang dihasilkan juga makin banyak. Tapi TPS yang ada tak sanggup menampung. Hasilnya  limbah menumpuk terbuka.

Rekomendasi Pansus DPRD Madina 4 Mei 2026 sudah ingatkan benahi kebersihan lingkungan rumah sakit. Tapi anggaran BLUD Rp15,9 M ternyata tak satu pun menyentuh perbaikan TPS atau insinerator. Justru ada Rp200 juta untuk Pembuatan Grounding.

Baca Juga :  Pimpin Apel Pagi, Ini Kata Bupati Madina

Untuk itu Publik mendesak Bupati evaluasi total. Sebab percuma anggaran obat miliaran jika pasien takut dirawat di RS tersebut.

“Mau jadi RS rujukan, Beresin dulu sampah. Percuma alat canggih dan obat lengkap kalau ujungnya pasien kena hepatitis dari lingkungan RS,” tegas keluarga pasien.

Sementara itu Kepala RSUD Panyabungan, dr Rusli Pulungan hingga berita ini ditayangkan tidak bisa dihubungi untuk dilakukan konfirmasi. (*)