MANDAILING NATAL II DATAPOST.ID – Setelah berulang kali longsor, kini longsor kembali menutup total jalur lintas Panyabungan–Natal di titik Bulu Soma, Kecamatan Batang Natal, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Akibatnya, akses vital penghubung pesisir barat Mandailing Natal (Madina) kini lumpuh total. Aktivitas masyarakat terhenti, distribusi barang terganggu, dan akses layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan ikut terhambat.

Yang menjadi sorotan serius, kondisi ini bukan kejadian insidental, melainkan pola berulang yang telah lama terjadi tanpa penyelesaian konkret. Jalur ini sejak lama dikenal sebagai titik rawan longsor, namun hingga hari ini tidak terlihat adanya langkah strategis, permanen, dan terukur dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Baca Juga :  Kegagalan Terima DID 2023, Pemkab Madina Harusnya Terbuka Ke Publik

Di tengah situasi darurat, masyarakat kembali dipaksa bergantung pada kemampuan sendiri. Tidak tampak respons cepat yang signifikan, tidak tersedia alat berat secara memadai, dan tidak ada kejelasan penanganan jangka pendek maupun jangka panjang. Negara, dalam konteks ini pemerintah provinsi, dinilai absen di saat paling dibutuhkan.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Generasi Muda (GM) GRIB Jaya Kabupaten Madina, Alfin Sahani, Selasa (21/04/2026) menegaskan bahwa peristiwa ini tidak bisa lagi dipandang sebagai bencana semata, melainkan sebagai kegagalan tata kelola infrastruktur.

“Setiap tahun, setiap hujan deras, titik ini kembali lumpuh. Ini bukan kejadian baru, ini kegagalan yang dipelihara. Ketika pemerintah tahu ini titik rawan, tetapi tidak ada langkah pencegahan yang serius, maka ini bukan lagi kelalaian biasa, ini pembiaran yang sistematis,” tegas Alfin Sahani

Baca Juga :  Meski Telah Dilalui Pj Gubernur Sumut, Jalan Provinsi di Pulau Nias Masih Tetap Rusak Parah
Ket foto : GM GRIB Jaya Madina. (Ist)

Ia pun juga menyoroti ketimpangan perhatian pembangunan yang dirasakan masyarakat di wilayah pesisir barat Madina.

“Masyarakat tidak butuh janji atau narasi pembangunan. Mereka butuh jalan yang bisa dilalui. Ketika akses utama lumpuh berulang kali tanpa solusi, itu menunjukkan bahwa ada wilayah yang seolah tidak menjadi prioritas,” lanjutnya kesal.

Lanjut, Generasi Muda GRIB Jaya menilai bahwa lambannya respons dan nihilnya solusi permanen berpotensi memperdalam dampak sosial dan ekonomi masyarakat.

“Aktivitas perdagangan tersendat, harga kebutuhan pokok berpotensi naik, dan mobilitas warga menjadi terisolasi,”tandasnya lagi.

Peristiwa ini sekaligus mempertegas bahwa persoalan infrastruktur di jalur Panyabungan–Natal bukan lagi isu teknis, melainkan persoalan keberpihakan dan keseriusan pemerintah dalam menjamin hak dasar masyarakat atas akses dan konektivitas.

Baca Juga :  Penetapan P-APBD Kabupaten Nias TA 2023 Gagal, Diskorsing Hingga Tengah Malam.

Terakhir GM GRIB Jaya Kabupaten Madina menambahkan bahwa situasi ini tidak boleh terus dinormalisasi sebagai “risiko alam”, sementara akar persoalan dan tanggung jawab penanganannya dibiarkan tanpa arah yang jelas. (*)